Hukum Islam Tentang Menambahkan Nama Suami Di Belakang Nama Istri

Setelah menikah, terkadang seorang wanita menambahkani namanya belakangnya dengan nama suaminya. Dan banyak seorang wanita muslimah setelah menikah, lalu menisbatkan namanya dengan nama suaminya, misalkan: Maryani menikah dengan Amiruddin, kemudian ia memakai nama suaminya sehingga namanya menjadi Maryani Amiruddin.

Bagaimana pandangan Islam mengenai perihal penamaan ini ? Dalam ajaran Islam, Hukum Penamaan adalah hal yang penting. Setiap laki-laki ataupun perempuan hanya diperbolehkan menambahkan “nama ayahnya” di belakang nama dirinya dan mengharamkan menambahkan nama lelaki lain selain ayahnya di belakang namanya, meskipun nama tersebut adalah nama suaminya.

Karena dalam ajaran Islam. Nama lelaki di belakang nama seseorang berarti keturunan atau anak dari lelaki tersebut. Sehingga, tempat tersebut hanya boleh untuk tempat nama ayah kandungnya sebagai penghormatan anak terhadap orang tua kandungnya.

Berbeda dengan budaya barat, seperti istrinya Bill Clinton: Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham; istrinya Barrack Obama: Michelle Obama yang nama aslinya Michelle LaVaughn Robinson, dan lain-lain.

Hadist mengenai perihal penamaan ini sangat shahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً

“Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat ALLAH, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, ALLAH tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah”

Dikeluarkan oleh Muslim dalam al-Hajj (3327) dan Tirmidzi dalam al-Wala’ wal Habbah bab Ma ja’a fiman tawalla ghoiro mawalihi (2127), Ahmad (616) dari hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu anhu.

Dan dalam riwayat yang lain :

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Barang siapa bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka surga haram baginya.”

Dikeluarkan oleh Bukhori dalam al-Maghozi bab : Ghozwatuth Tho`if (3982), Muslim dalam “al-Iman” (220), Abu Dawud dalam “al-Adab”

Hadist yang juga mendukung hal ini adalah:

لَيْسَ لَهُ فِيهِمْ – أي نسب – فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Artinya: tidaklah seseorang mendakwakan kepada selain ayahnya sedangkan dia mengetahuinya kecuali dia telah kafir, barangsiapa yang mendakwakan kepada suatu kaum sedangkan dia tidak memiliki nasab dari mereka, maka hendaklah dia memesan tempatnya dalam neraka (Bukhari – 3508)

اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ) رواه ابن ماجة (2599) وصححه الألباني في صحيح الجامع (6104

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya, maka baginya laknat ALLAH, para malaikat dan manusia seluruhnya”. [HR Ibnu Majah(2599) dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (6104)]

Pemberlakuan yang dibolehkan ialah dengan memberikan suatu keterangan: misalkan Astuti menikah dengan Rahmat, maka silahkan memperkenalkan diri dengan sebutan: Astusti istrinya Rahmat atau hanya dengan Nyonya Rahmat atau Ibu Rahmat.

Hal tersebut di atas tidak berkaitan dengan permasalahan nasab/garis keturunan. Karena di dalam hukum Islam jika Astuti menggabungkan namanya menjadi Astuti Rahmat, hal itu berarti Astuti anak dari laki-laki yang bernama Rahmat.

Tidak kita temukan dalam sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa istri dinisbatkan kepada suaminya, karena para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu para ibu kaum mukminin menikah dengan manusia yang paling mulia nasabnya namun tidak seorang dari mereka yang dinisbatkan kepada nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan mereka semua masih dinisbatkan kepada ayah mereka meskipun ayah mereka kafir, demikian pula para istri sahabat radhiallahu anhum dan yang datang setelah mereka tidak pernah mengganti nasab mereka.

Kesimpulannya kita sebagai muslim yang memiliki jati diri, yang taat kepada ALLAH Ta’alaa hendaklah kita mencontoh apa yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga bermanfaat.

Sumber: Sajadah Kalbu
Gambar pinjam dari sini

78 Comments

  1. Makasih share ilmunya,sepele namun sgt berat hukumnya dan banyak bgt yg tidak tahu,,saya mau nanya kalo anak adopsi yg sejak lahir dan belum diberi nama orang tua kandungnya terus dia diberi nama ornag tua adopsinya dan ditambahkan nama ayah adopsi dibelakangnya giman hukumnya,boleh tidak?makasih

  2. bismillah. salam. mohon penjelasan dan koreksi

    kalo dalam hukum islam ini namanya “Qiyas” kan???? judulnya penambahan nama tapi penjelasan hadisnya tentang nisbat/nasab bukan penambahan nama?? bukankah nisbat menasabkan kpd ayah ditandai den…gan “bin” atau “binti” ?? misal : pak rahmat punya anak diberi nama aisyah rahmat, maka dalam hal yang prinsip seperti pernikahan untuk menunjukkan nasabnya tetep saja aisyah rahmat bin rahmat. contoh: Hasyim Asyari menamakan anaknya Wahid Hasyim, wahid hasyim menamakan anaknya abdurrahman wahid, tpi untuk menunjukkan nasabnya tetep abdurrahman wahid bin wahid hasyim, ato Wahid Hasyim bin hasyim asyari………karna tidak pernah diajarkan dan “Tidak pernah kita mendengar atau diajarkan Rasulullah menambah namanya”, maka penjelasan diatas bersifat “Qiyas” (penganalogian),..bahkan qiyas sendiri masih ada perselisihan bisa jadi dasar atau tidak (http://nurulwatoni.tripod.com/Qiyas_Ibnu_Hazm.htm)..

    lain lagi kalo kita “pernah mendengar Rasulullah mengatakan untuk tidak menambahkan nama”, maka jelaslah itu tidak boleh, karna tingkatannya sudah hadist

    saya mengutip contoh kasus diatas : tentang astuti rahmat bukankah penyebutan saja?bukan pe-nasab-an?..penyebutan astuti rahmat, bu rahmat ato nyonya rahmat sama saja kan???knp bu rahmat dan nyonya rahmat boleh tapi astuti rahmat tidak boleh?

    kalo tentang nasab sudah jelas tidak boleh, sudah dijelaskan diatas. ““Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Alloh, malaikat, dan segenap manusia.” lalu ““Barang siapa bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka surga haram baginya”
    tapi kalo astuti rahmat/ibu rahmat/nyonya rahmat, dimana letak pengakuan astuti menasabkan dirinya kepada rahmat???

    mengutip penggalan diatas yang berbunyi “Berbeda dengan budaya barat, seperti istrinya Bill Clinton: Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham; istrinya Barrack Obama: Michelle Obama yang nama aslinya Michelle LaVaughn Robinso…n, dan lain-lain”. Hal ini berarti jelas bahwa Penamaan dalam islam adalah masuk konteks “budaya” bukan “syariat”. karna sebelum islam ada pun, budaya arab tentang penamaan adalah menambahkan nama bapak di belakang “bin” atau “binti”. dan budaya penamaan di tiap daerah berbeda, asalkan tidak melanggar syariat. indonesia sendiri punya budaya penamaan marga misalnya nasution, hutagalung, malarangeng, la ode dan lain2.

    Sedangkan Nasab adalah islam dalam konteks “syariat” yang nasab sendiri merupakan wujud dalam mensyukuri nikmat atas keturunan dan ada syarat2 untuk menentukan nasab.anak bernasab pada selain bapaknya itu tidak boleh dan dalam bernasab ada syarat2 yg harus terpenuhi… saya rasa nama tidak bisa diQiyaskan dengan nasab/nisbat…SUDAH JELAS “gak ada hubungannya”.

    mohon koreksinya. komentar saya didasari pandangan saya untuk berhati-hati “menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal”

    • hmm..patut dijawab dengan baik nih, input yang sangat menarik dari komentar diatas.

      Sekedar menambahkan, didalam Al-Qur’an maupun hadits, saya belum ketemu membaca adanya penggunaan nasab dari penyebutan nama junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, lebih sering hanya disebut nama nya : Muhammad

      kecuali riwayat2 yang membahas tentang asal usul beliau.

      Oleh karena itu perlu kita tahu juga hukum Nasab itu sendiri? tradisi kah atau syariatkah? apa hukumnya jika kita menggunakan atau tidak,krn dari hadits yang disebutkan diatas tidak ada anjuran melainkan larangan dan perlu dijabarkan pula “larangan yang bagaimanakah?”

      Mohon tanggapan bagi yang berkenan,trims.

    • betul sekali bahwa tatabahasa perlu dicermati jadi jangan se-olah2, yang dimangsud dalam hukum islam tsb diatas adalah keturunan. jadi penambahan bukan nasab/nisbat, kalau laki2 ya “BIN” kalau perempuan ya “BINTI” yang berarti “ANAK atau KETURUNAN” langsung mengambil dari kakeknya pun tidak boleh, apalagi orang lain. kalau hanya penambahan apapun namanya tidak ada hukum yang melarang. tks. “SETUJU RAHASIA”

  3. bismillaah.
    saya setuju dengan pendapat rahasia. sepemahaman saya yang tidak diperbolehkan adalah penashaban kepada orang lain.
    dan penambahan nama dibelakang nya tanpa disertai bin/binti atau anak dari….maka hanya merupakan nama keterangan saja. jadi tidak masalah.
    sedangkan penashaban saat ini sudah dikuatkan dengan adanya akte kelahiran. kalaupun anak akan diadopsi maka si anak tetap tidakbisa dianggap sebagai anak kandung si pengadopsi (itu kalau orangtua kandung anak diketahui).karena teman saya mengangkat anak mulai sianak baru lahir diteruskan pembuatan akta. jadi tetap tidak ada perubahan nashab.
    jadi menurut saya hadist diatas substansinya pada perubahan nashab bukan tentang penambahan nama dibelakang nama asli.
    waallau’alam.

  4. Dalam hadist tersebut hanya menyebutkan menisbatkan bukan menambah,,, menurut saya menisbatkan itu menambahkan kata “bin” atau “binti” di belakang nama supaya jelas nasab keturunannya, apabila itu di rubah maka baru itu mendapatkan laknat Allah,,,apabila menambah nama suami d belakang nama istri itu sah2 saja, Islam itu indah,,,,

  5. Setuju banget. Alhamdulillah sejak menikah sampai sekarang saya tetap memakai nama ayah saya di belakang nama saya. Dan memang sudah sejak dulu ayah saya menekankan hal tersebut kepada kami anak2 perempuannya. Izin share ya artikelnya, terima kasih..:)

  6. lebih cenderung setuju dengan komen nya Rahasia ;)), lagi pula itu di ambil dari hadist2 yg d riwayatkan bukan dari ayat2 suci al-qur-an, jadi bagi saia menambahkan nama suami d belakang nama kita sbg seorang perempuan sah2 aja, bukan kah sebg perempuan setelah ber keluarga juga pengabdian kedua setelah kita mengabdi ke Allah itu kita harus mengabdi k suami? maaf jika komen saia salah:) sebab saia org yg masih perlu belajar tentang agama islam:)

  7. Untuk TS coba cermati lagi, menambahkan nama tidak sama dengan menisbatkan.. jangan2 anda beranggapan bhwa keduanya memiliki arti yang sama. Jika demikian, anda salah.. mohon dikoreksi,karena bisa menyesatkan pemahaman orang..

  8. Saya sependapat dengan pendapat rahasia bahwa menambahkan nama suami TIDAK IDENTIK dengan menashabkan.

    Namun saya menganggap bahwa nama pemberian orang tua kita adalah yang terbaik, dan tidak layak diubah2. (Setahu saya cuma boleh diubah kalau namanya bermakna jelek).

    Menambah2i nama (walau nama suami) bagi saya termasuk mengubah nama diri, dan gak banget (saya seorang cewe). Walaupun suami adalah tempat taat nomor dua setelah Allah, dan orang yang sangat saya cinta dan hargai, saya tetap bangga memakai nama asli sendiri. (walau saya gak keberatan dipanggil istri NamaSuami, atau bu NamaSuami.😀 )

  9. Misalkan seorang bernama Fulan A binti Fulan B lalu mengganti dengan Fulan A binti Fulan C maka jelas-jelas itu melanggar ketentuan hadits tersebut. Tetapi bila Fulan A binti Fulan B menikah dengan Fulan C lalu namanya ditulis Fulan A Fulan C maka tentu ia hanya ingin menyatakan bahwa nama saya Fulan A istri dari Fulan C, dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyatakan Fulan A anak perempuan dari Fulan C.
    Namun sebagai seorang awam, saya tak berani menafsirkan hadist tersebut. Apakah ketika menambahkan nama suami termasuk dalam kategori melanggar ketentuan hadist tersebut atau tidak. Mudah-mudahan ada ahli tafsir hadits yang mau memberikan penjelasan.
    Justru yang saya khawatirkan adalah bila menambahkan nama suami (yang nota bene adalah budaya barat) termasuk dalam kategori tasyabbuh dengan orang kafir – sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadist :
    Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya :

    “Kerendahan dan kekerdilan dijadikan pada orang yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa yang meniru satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”

    Hadits tersebut tentu membutuhkan penjelasaan dari ahli tafsir, meniru seperti apa yang dilarang termasuk apakah dalam hal struktur nama seeorang

    Logika saya sebagai orang awam cenderung memilih yang aman … Islam punya best practice dalam menjalani kehidupan yang dicontohkan Nabi Muhammad, SAW serta para shababat, dan sudah semestinya kita berusaha mengikutinya ….

  10. Saya faham bahwa ini adalah Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ juz 20 halaman 379.

    Perlu diketahui bahwa Ayat Al-Qur’an (al-Ahzab 5) dan Hadits-hadits tersebut berkaitan dengan dengan masalah kedudukan Anak Angkat dalam Faroid (Waris-mewaris) dan Nashab (Hubungan darah). Fatwa itu tidak ada hubungannya dengan penamaan gabungan sebuah nama Istri dengan nama suami. Meskipun Istri bernama ASTUTI dan suami bernama AZIS, apakah nama ASTUTI AZIS merupakan bentuk PENGAKUAN dan MENISBATKAN DIRI bahwa ASTUTI adalah anak atau nashab AZIS?.

    Hadits dan Ayat Al-Qur’an di atas memiliki asbabul wurud dan asbabun nuzul untuk maksud mengikis habis tradisi Jahiliyah, dimana saat itu mulai dilarang mempersamakan status hukum anak angkat dengan anak kandung dalam masalah hak faroid dan hubungan pernikahan di masyarakat. Ketika Jaman Jahiliyah banyak terjadi persoalan hak waris dan masalah pernikahan karena penisbahan seorang anak kepada bukan walinya. Pada masa Arab jahiliyah ketika itu, banyak terjadi beberapa anak yang tidak dikenal siapa orang tuanya (mungkin hasil perzinahan, perkosaan atau bayi-bayi tawanan yang ditinggal mati/larinya orang tuanya dalam peperangan). Banyak anggota masyarakat yang tertarik untuk mengadopsi/mengangkatnya sebagai anak, lalu mereka menasabkan dan mengakui sebagai anak kandungnya. Akhirnya, orang yang mengangkat anak tersebut dan anak yang diadopsi tersebut dapat saling mewarisi. Akibatnya, banyak terjadi juga pernikahan antara dua saudara kandung karena salah satu saudara ini telah diangkat anak orang lain dan menisbahkan orang lain tersebut sebagai walinya. Penisbahan dan pengakuan yang keliru dan tidak sesuai dengan garis keturunan yang syah pada jaman Jahiliyah itu telah mengakibatkan persoalan-persoalan besar dalam masalah waris dan pernikahan dalam hukum dan masyarakat Islam.

    Seperti yang dikutip dalam Tafsir “Fi Zhilalil Qur’an oleh Sayyid Quthb, telah diriwayatkan bahwa Zaid Ibnul Haritsah al Kalbi berasal dari kabilah Arab. Dia ditawan pada saat kecil di suatu peperangan zaman Jahiliyah. Seorang bernama Hakim bin Hizam membeli anak kecil itu dan diberikannya kepada Siti Khadijah. Setelah Siti Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad, Zaid kecil ini diberikan kepada Rasulallah. Suatu ketika, kemudian bapak kandung dan paman Zaid datang dan meminta agar Rasulallah membebaskan dan memberikannya kepada mereka kembali. Rasulallah memberikan hak penuh kepada Zaid untuk memilih apakah ikut Bapaknya atau ikut Rasulallah. Tetapi, Zaid akhirnya memilih ikut Rasulallah, yang kemudian Rasulallah mememerdekakan dan mengadopsinya sebagai anak. Sejak itu, masyarakat Arab ketika itu sering memanggil nama Zaid Ibnul Haritsah dengan panggilan Zaid bin Muhammad.

    Dengan latar belakang sejarah tersebut di atas, maka dari sinilah kemudian turun wahyu Al-Qur’an [QS al-Ahzab: 5] sebagai Asbaabun Nuzul (Diriwayatkan oleh al-Bukhori dari Ibnu Umar), sebagai petunjuk AGAR MEMANGGIL ANAK ANGKAT itu dengan memakai nama bapak kandungnya:

    “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [QS al-Ahzab: 5]

    Tujuan Ayat ini adalah membangun institusi keluarga dalam masyarakat dan hubungan keluarga serta darah menuju tatanan masyarakat yang harmonis, sehat, benar, terhormat dan adil. Lebih terhormat dan adil disisi Allah apabila anak-anak angkat itu dipanggil dengan nasab bapaknya. Perhatikan bunyi ayat selanjutnya“….Dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maula”. Ayat ini menunjukkan dan menerangkan bagaimana kacaunya dan kebejatan hubungan seksual kehidupan masyarakat jahiliyah ketika itu sampai-sampai anak-anak tidak dikenali lagi siapa bapak-bapak kandungnya. Apabila mereka (anak angkat) tidak diketahui siapa bapaknya dengan sebab apapun dalam masalah pewarisan dan nashab, maka panggillah mereka (anak-anak angkat) itu sebagai saudara-saudaramu seagama dan orang yang dekat denganmu (maula-maulamu) dalam mendudukkan perkara waris dan nashab.

    Coba perhatikan kelanjutan Surah al-Ahzab ayat 6 sebagai berikut:

    “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Allah). [QS al-Ahzab: 6]

    Dari QS al-Ahzab: 6 ini jelas-jelas mempertegas membicarakan tentang bahwa pemanggilan nama-nama anak angkat dipanggil dengan nashab bapaknya adalah untuk masalah kedudukan Faroid (warisan) dan nashab (hubungan darah), bukan pemanggilan nama secara harfiah.

    Oleh karenanya, apabila ayat Al-Qur’an dan Hadits di atas diqiyaskan bahwa istri dilarang menambahkan nama suami di belakang namanya, maka hal itu tidak sesuai dengan maksud dan tujuan Hadits dan Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah. Istri menambahkan nama suami di belakang namanya, seperti Astuti Azis, bukanlah dia menjadikan istri tersebut sebagai anak sang suami, tetapi sebagai identitas atau kecintaan sang Istri kepada Suaminya, sepanjang tidak menghilangkan hubungan nasab dari Bapak kandung sang Istri dan tidak merubah kedudukan Istri dalam hukum Faroid dan Pernikahan.

    Yang perlu kita pertanyakan adalah: Kalau ada Qiyas terhadap Al-Qur’an dan Hadits di atas atau Fatwa yang melarang seorang Istri mencantumkan nama di belakangnya dengan nama suaminya, seperti ASTUTI AZIS, apa urgensi pentingnya terhadap kemaslahatan kehidupan ummat Islam selain untuk masalah Nashab dan Faroid? Apakah budaya atau adat masyarakat suatu wilayah tertentu harus mengikuti adat masyarakat Arab, sementara Islam sebagai Rahmatan Lil A’lamin? Perlu diketahui bahwa Allah SWT menentukan hukum Halal dan Haram PASTI memiliki kemaslahatan dan kemudhorotan, bukan hanya dogma “Dosa dan Neraka” yang hanya didasarkan tafsir dan qiyas yang lebih cenderung bersifat subyektif. Juga, budaya dan adat tidaklah sama dengan Syari’at Islam. Sepanjang budaya dan adat suatu masyarakat tidak bertentangan dengan hukum syari’at yang digariskan secara Nash dalam Al-Qur’an dan Hadits tentang pelarangannya secara Nash juga, maka syah-syah saja diberlakukan.

    Kalau Qiyas atau tafsir dari dalil di atas diberlakukan secara serampangan, maka bagaimana hukumnya ketika Rasulallah sering memanggil nama sahabat-sahabatnya dengan nama lainnya, bukan hanya menambahkan saja, seperti: Abu Hurairah (Artinya = Bapaknya Kucing) yang nama aslinya adalah Abdullah bin Amin dan ada pula yang mengatakan nama aslinya ialah Abdur Rahman bin Shakhr. Apakah panggilan Abu Hurairah itu Rasulallah dan Abu Hurairah menisbatkan dan mengakui sebagai Bapaknya Kucing? Lalu panggilan julukan istri Rasulallah “Aisyah” adalah Ummi Mukminin (Ibunya orang-orang mukmin) dan Rasulallah sering memanggilnya “Khumairo” (Pipi yang kemerah-merahan), kenapa Rasulallah tidak memanggilnya Aisyah binti Abu Bakar?

    Budaya itu bukan Syari’at, dan sebaliknya Syari’at itu bukan budaya karena syari’at adalah ketentuan yang digariskan oleh Allah melalui Nash Al-Qur’an dan Hadits, sedangkan Budaya adalah hasil perilaku dan kesepakatan sekelompok masyarakat dalam suatu tempat tertentu. Qiyas itu merupakan penerapan hukum analogi terhadap hukum sesuatu yang serupa karena prinsip persamaan illat akan melahirkan hukum yang sama pula. Tapi perlu diketahui, dalil tentang hukum AGAR MEMANGGIL ANAK ANGKAT atau PENGAKUAN itu dengan memakai nama bapak kandungnya, dan MENISBATKAN DIRI selain walinya tidak bisa diserupakan, dianalogikakan atau diqiyaskan serupa dengan PENAMBAHAN NAMA SEORANG ISTRI DENGAN NAMA SUAMINYA yang tidak ada unsur dengan penisbatan diri atau pengakuan memiliki hubungan nashab.

    Semoga kita tidak terjebak dengan pemakaian kata Bahasa Arab “bin atau binti” dalam menafsirkan dan mengqiyas Al-Qur’an maupun Al-Hadits dalam konteks budaya dan syari’at.

  11. Alhamdulillah jelas sdh skrg ,berarti tidak apa2 istri menggunakan nama suami dibelakang namanya hanya untuk menunjukkan bahwa ini lho saya istri dari suami saya yg namanya dibelakang nama saya hanya sebutan saja bukan nama keturunan
    ,trims atas infonya

    • السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
      Mohon maaf sbelumnya, pendapat diatas dri rahasia dan amin aminuddin kn pendapat mereka bukan bukan dari ijma’ dri ulama.
      Bukan berarti sy tdk menghargai pandangan sdr2 sekalian.
      Alangkah lebih baiknya bila kita tdk langsung menyimpulkan bahwa penafsiran hadist ini sudh jelas dri pendapat sdr2 sekalian karena ijma’ ulama lh yg dbuat jd kesimpulan.

      Terimakasih

  12. ass. Dalam keluarga kami mengangkat anak laki2 usia 11 tahun hingga beliau meninggal diusia 42 thn. Semasa hidupnya, kami tidak pernah bertanya siapa nama ayah kandungnya. Beliaupun tdk pernah menceritakan kehidupan masa kecilnya sampai akhirnya tutup usia. Yg ingin kami tanyakan, pada nisan beliau sebaiknya kami tuliskan bin apa ya ?? Misalkan namanya rozak, maka harus kami namakan rozak bin siapa?? Mhn balasannya, penting bagi kami. Tks

  13. Bagaiman hukum seorang Istri Atau suami yang berasal dari agama yang berbeda? Menisbatkan ke pada siapa Nasab Mereka? secara Orang Tua Mereka adalah Orang non Muslim. apakah tetap bin atau binti orang tua kandung mereka?Mohon bantuan Jawabannya….

  14. Bagi saya yang orang awam, saya tidak mau istri saya menambahkan nama saya di belakang namanya, karena yang lebih utama adalah nama ayahnya yang harus ada di belakang namanya. Ini salah satu cara yahudi untuk bisa masuk dan merusak aqidah Umat islam, yang membiasakan hal yang tidak biasa dan tidak seharusnya. Seharusnya kita berfikirapakah dizaman nabi Muhamad ada hal-hal semacam ini?

  15. Syeikh Muhammad Shaleh al Munjid mengatakan bahwa tidak ada hubungan nasab antara suami dan istri lantas bagaimana bisa digandengkan kepada nasabnya lalu bagaimana jika dia diceraikan atau suaminya meninggal dunia atau wanita itu menikah dengan lelaki lain maka apakah nasabnya terus dirubah setiap kali wanita menikah dengan lelaki lain? (al Islam Sual wa Jawab)

  16. Assalamu’alaikum. Alhamdulillah. Setuju sekali dan di dalam keluarga kami sudah dari dulu menempatkan nama ayah di belakang nama anak-anak-nya termasuk saya dan adik saya dan berlanjut ke anak-anak kami baik laki-laki maupun perempuan dan cucu-cucu kami dari anak laki-laki. Terima kasih atas tauziyah dan artikelnya, semoga bermanfaat.

  17. Dalam surat At-Tahrim 10-11, Allah ada menyebut tentang “nyony” Nuh/Luth dan Fir’aun. “imra`atu Nuh (istrinya nabi Nuh) dst…

    Allah tidak bisa ditipu. Itu saja sudah…

  18. saya sering melihat ada nya perubahan/penggantian nama pada seorang laki2 (muslim) yg baru menikah, oleh bapak mertua nya.
    Tapi saya belum tau apa hukumnya dn dari tradisi/ajaran mana ia nya berasal ?.

    Harap ada yg mau menjelaskan. Terimakasih

  19. Saya sebenarnya bingung,tp coba ditanya sama hati nurani saja! Pembenaran?atau sebuah kebenaran yg dicari?Membuktikan cinta pada suami itu sah2saja.. Tp apakah salah melakukan hal yg sepele saja untukvuktikan cinta kita pada Alloh,atau pada Rosul..knp umat islam itu senang mencontoh yg enak saja..cobtoh poligami..tp knpa hal sepele seperti ini saja tdk mampu mencontohnya?pada zama Rosul.. Semua Istri Rosul mencintai Rosul.. Mereka wanita2 hebat.. Tp tdk ada sarupun yg mentematkan nama Rosul dibelakangnya. Yg justru patut dicintai dan dibanggakan. Misal khodijah Muhammad.atau Aisyah Muhammad.. Sami’na watho’na..
    Wallahu alam..

  20. mw tanya kalo penggunaan bin/binti digunakan buat doa contoh.. wakususon ila ruhi wajasadi shokhibul hajat (nama sendiri) bin/binti (nama ibu kandung) al fatiha.. kalo sohibul hajat anak laki2 yg bnr pake bin/binti, mohon pencerahannya

  21. mw tanya kalo penggunaan bin/binti digunakan
    buat doa contoh.. wakususon ila ruhi wajasadi
    shokhibul hajat (nama sendiri) bin/binti (nama
    ibu kandung) al fatiha.. kalo sohibul hajat anak
    laki2 yg bnr pake bin/binti, mohon
    pencerahannya

  22. BAGAIMANA PENCANTUMAN NAMA MOYANG ATAU MARGA ATAU DINASTI SETELAH NAMA PRIBADI?

    Ada fatwa seperti ceramah ustadz di bawah ini: BAGI KAUM MUSLIMAH MENCANTUMAN NAMA DIBELAKANG NAMANYA SELAIN NAMA ORANG TUA DILARANG? Lalu, timbul pertanyaan seperti di atas?

    Banyak ustadz yang mempermasalahkan pencantuman nama suami dibelakang nama isterinya, ya ini kita sepakati tidaklah sesuai dengan ajaran agama kita Islam. Lalu, bukan saja soal nama isteri tapi banyak kita sendiri yang ditambah pula dengan nama ‘moyang-moyang’ atau ‘marga-marga’ bahkan tidak menampakkan atau mencantumkan nama bapaknya, seperti nama ustadz di bawah ini ada nama BASALAMAH, SHIHAB, ASSEGAF-nya? Atau suku-suku di negeri kita sendiri seperti (mohon maaf) ada nama SIREGAR, NASUTION, LUBIS dsb. lah yang seperti ini hukumnya bagaimana???

    Simak telaah di bawah ini:

    Wardah Muatthiroh membagikan video Jeda Kajian Sunnah — bersama Mahrus Mknu.

    Menambahkan Nama Suami di Belakang Nama Istri
    – Ust. Khalid Basalamah MA –

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Setelah menikah terkadang seorang wanita mengganti nama belakangnya atau nama keluarganya dengan nama suaminya. Hal ini juga banyak dilakukan di negara-negara barat, seperti istriny Bil Clinton yaitu: Hillary Clinton yang nama asliny adalah Hillary Diane Rodham, istriny Barrack Obama yaitu: Michelle Obama dll. dan anehnya budaya inipun akhirnya diikuti oleh kebanyakan para muslimah dinegeri ini.

    Padahal Allah Subhanahu wa ta`ala telah jelas berfirman dalam Al-quran yang artinya:

    “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah.” [QS. Al-Ahzab : 5]

    Lalu bagaimanakah sebenarnya hukum tentang masalah ini? simak penjelasan beliau, semoga bermanfaat…

    Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=on1kmBMfr2o

    Bandingkan pula dengan orang lain agama soal nama dibelakangnya sbb.:

    “Bagi kami di Indonesia Timur, nama marga lebih penting dari nama-nama lainnya. Karena nama tersebut adalah nama turun temurun dari nenek moyang”

    Nama keluarga atau nama marga atau di NTT biasa kami sebut “nama fam” bukan saja agar rekam jejak leluhur bisa dipantau.

    Nama marga juga merupakan nama yang menanandakan dari keluarga mana seorang berasal.

    Contoh: nama marga Kitu->pasti dari Sabu,NTT.

    Atau nama marga Siahaya yang memakai nama marga tersebut PASTI berasal dari AMBON!

    Marga lazim ada di banyak kebudayaan di dunia dan umumnya terletak di belakang, sehingga sering disebut dengan nama belakang!

    Bagi kami di Indonesia Timur,nama marga lebih penting dari nama-nama lainnya.

    Karena nama tersebut adalah nama turun temurun dari nenek moyang serta menjadi identitas dalam masyarakat dan adat.

    Jadi,kami bisa saja bertengkar dengan orang yang mengejek/menertawakan nama marga kami.

    Rata-rata di Indonesia Timur nama marga diturunkan dari ayah kepada anak-anaknya (patriarchal).

    Marga lebih sering digunakan daripada nama lainnya,biasanya nama disingkat saja.

    Seperti nama saya: Yustina Lifiana Kurniawati Liarian Eto.

    Saking panjangnya nama saya dan begitu pentingnya nama marga sehingga nama saya biasa disingkat: Yustina L.K.Liarian Eto (tetap saja panjang).

    Sayangnya nama Eto itu kadang dijadikan bahan tertawaan.

    Hah!! Mereka tidak tau nama itu kami dapatkan dengan membayar gading & menikam babi??

    Selain di NTT,ada beberapa suku bangsa di Indonesia yang menggunakan sistem nama keluarga yang diwariskan turun-temurun antara lain: Batak, Minangkabau, Minahasa, Ambon, Timor, Nias, Dayak, Toraja, Papua, Manado (maaf jika tdk sempat disebut)

    Untuk beberapa suku tidak menerapkan sistem ini seperti Jawa, Bali dan Madura serta Sunda.

    http://bluejeans1986.blogspot.co.id/2013/09/sebuah-nama.html

    https://dheryudi.wordpress.com/2011/03/01/hukum-islam-tentang-menambahkan-nama-suami-di-belakang-nama-istri/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s