Bersyukur

Berikut ini adalah kultwit tentang BERSYUKUR yang saya ambil dari account twitter-nya Mas Rangga Umara (@ranggaumara). Insya ALLAH bermanfaat buat teman2 semua..aamiin.. :)

1. Kalo mau makin maju harus banyak2 bersyukur…maka nikmat Tuhan akan terus ditambahkan #Bersyukur

2. Konteks bersyukur itu bukan cuma sekedar menerima apa adanya #Bersyukur

3. Tidak cepat puas dan terus memperbaiki diri jg salah satu bentuk rasa syukur #Bersyukur

4. Sering kita liat pedagang pas udah rame kualitas produknya ngga dijagain lagi, kualitasnya malah dikurang2in #Bersyukur

5. Kalo dagang kaya begitu namanya ngga bersyukur…tinggal nunggu waktunya ancur #Bersyukur
Continue reading

Jangan Terlena dan Jangan Kecewa…

Tataplah dunia dengan hati yang jernih, jangan terlena saat mendapat kesenangannya dan jangan kecewa saat kehilangannya. Cari dan jadikan kenikmatan dunia (harta, pekerjaan, jabatan, keluarga, dll.) untuk bekal akhirat, sebagai sarana atau ladang ibadah kepada ALLAH Azza Wa Jalla.. Insya ALLAH akan bahagia, selamat dunia dan akhirat.

*menasihati diri sendiri*

Semuanya Telah Tertulis…

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi ALLAH. (QS. Al-Hadiid [57]: 22)

Segala sesuatu yang ada di dunia ini telah ditentukan, dan semua yang akan dan telah terjadi, telah ditetapkan. Ujian, cobaan, nikmat.. semuanya telah ditetapkan oleh-NYA. Keyakinan seperti ini yang semestinya kita tanamkan pada diri dan hati kita, agar kita berhenti bertanya dan protes kepada ALLAH SWT. Jika keyakinan seperti ini telah kuat tertanam dalam hati dan jiwa kita, insya ALLAH.. hal tersebut dapat menenangkan hati dan menghindarkan kita dari depresi, stress, putus asa dan tekanan bathin lainnya ketika apa yang kita inginkan dan cita-citakan gak tercapai. Dan pada akhirnya keyakinan tersebut akan mengubah ujian dan cobaan menjadi sebuah anugerah.. :)
Selengkapnya..

Pegangan Hidup dalam Menghadapi Realitas Kehidupan

Perjalanan hidup manusia tidak akan luput dari ujian dan cobaan, pahit dan manis pasti akan mewarnai kehidupan kita sebagai makhluk-NYA. Jika kepahitan, kesengsaraan, kesedihan datang menghampiri umumnya kita menyebutnya sebagai ujian dan cobaan. Padahal kesenangan, kebahagiaan juga merupakan ujian dan cobaan. Tulisan ini saya sarikan dari buku Dzikir karya Dr. Miftah Faridl.. semoga bermanfaat.

Salah satu hikmah dan manfaat hidup beragama adalah kemantapan dan ketenangan bathin. Dengan melaksanakan ajaran-ajaran agama, hati seseorang akan menjadi sejuk dan tenang. Islam memberikan sejumlah pelajaran agar kaum Muslim senantiasa siap menghadapi berbagai kesulitan dan kepahitan hidup dengan keimanan, kesabaran dan ketawakkalan kepada ALLAH SWT.

Al-Qur’an mengajarkan kepada ummat Islam tentang beberapa prinsip hidup dan kehidupan duniawi yang harus menjadi pegangan hidup setiap Muslim. Di antaranya :
Selengkapnya…

Berbahagialah dan Bersyukurlah!

Orang yang (maaf) buta memendam keinginan untuk menyaksikan dunia.
Orang yang (maaf) tuli memendam keingiman untuk mendengarkan suara-suara.
Orang yang (maaf) lumpuh memendam cita-cita untuk dapat berjalan walaupun hanya beberapa langkah.
Orang yang (maaf) bisu memendam cita-cita untuk bisa mengucapkan beberapa kata.
Sedangkan kita lebih dari mereka; bisa melihat, mendengar, berjalan dan bicara. Maka berbahagialah dan bersyukurlah!

Cara Bersyukur Kepada ALLAH SWT

Oleh : M. Khalilurrahman Al Mahfani

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cara bersyukur kepada ALLAH SWT terdiri dari empat komponen.

1. Syukur dengan Hati

Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan ALLAH.
ALLAH SWT berfirman,

Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari ALLAH. (QS. An-Nahl: 53)

Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan da kasih sayang ALLAH sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-NYA.

2. Syukur dengan Lisan

Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari ALLAH, spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi ALLAH). Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji ALLAH. Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang ALLAH kehendaki untuk “menyampaikan” nikmat itu kepadanya.

Al pada kalimat Alhamdulillah berfungsi sebagi istighraq, yang mengandung arti keseluruhan. Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah ALLAH SWT, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-NYA.

Oleh karena itu, kita harus mengembalikan segala pujian kepada ALLAH. Pada saat kita memuji seseorang karena kebaikannya, hakikat pujian tersebut harus ditujukan kepada ALLAH SWT. Sebab, ALLAH adalah Pemilik Segala Kebaikan.

3. Syukur dengan Perbuatan

Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-NYA. Misalnya untuk beribadah kepada ALLAH, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat ALLAH harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan.

Rasulullah saw menjelaskan bahwa ALLAH sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-NYA itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah saw bersabda,

Sesungguhnya ALLAH senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-NYA pada hamba-NYA. (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr)

Maksud dari hadits di atas adalah bahwa ALLAH menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Misalnya, orang yang kaya hendaknya menampakkan hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang berilmu menampakkan ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama manusia, memberi nasihat dsb. Maksud menampakkan di sini bukanlah pamer, namun sebagai wujud syukur yang didasaari karena-NYA. ALLAH SWT berfirman,

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur). (QS. Adh-Dhuha: 11)

4. Menjaga Nikmat dari Kerusakan

Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya, ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit.

Demikian pula dengan halnya dengan nikmat iman dan Islam. Kita wajib menjaganya dari “kepunahan” yang disebabkan pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman. Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam kita dengan sholat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdoa. Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak iman seperti munafik, ingkar dan kemungkaran. Intinya setiap nikmat yang ALLAH berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

ALLAH SWT menjanjikan akan menambah nikmat jika kita pandai bersyukur, seperti pada firmannya berikut ini,

La’insyakartum la’aziidannakum wa la’inkafartum ‘inna ‘adzaabii lasyadiid
(Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU), sungguh adzab-KU sangat pedih. (QS. Ibrahim: 7)

Bersyukur…

alhamdulillah

Oleh : M. Khalilurrahman Al Mahfani

Allah Swt berfirman,

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Bersyukur kepada Allah merupakan konsekuensi logis manusia sebagai makhluk yang telah diciptakan dan dilimpahi aneka kenikmatan serta anugerah yang besar.

Secara etimologis, bersyukur artinya berterimakasih kepada Allah. Imam Ar-Raghib Al Isfahani dalam kitabnya, Al-Mufradat fi Ghara’ib Al-Quran mengatakan bahwa kata “syukur” mengandung pengertian adanya pengakuan diri yang tulus akan suatu nikmat atau anugerah, dan upaya untuk menampakkannya.

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa hakikat syukur kepada Allah adalah tampaknya pengaruh nikmat Allah pada lisan seorang hamba sehingga muncul dalam bentuk pujian dan pengakuan, melekatnya nikmat dalam hatinya sehingga menimbulkan bentuk kesaksian dan rasa cinta, dan terpatrinya nikmat pada anggota tubuhnya sehingga mewujudkan kepatuhan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. (Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Tahdzib Madarij As-Salikin: 348)

Silahkan dilanjutin bacanya..