Tanpa sadar banyak di antara kita sudah tergiring pada pola makan amburadul serba fast food. Selain resto, supermarket penyedia fast food siap masak seperti nugget dan drumstick makin mudah terjangkau. Wajar saja kalau anak-anak kita pun makin banyak yang mengidap penyakit akibat kebiasaan menyantap fast food. Di balik ancaman fast food, pelan tapi pasti kita makin disadarkan pentingnya kembali ke pola makan tradisional yang alami, beragam, dan lebih sehat. salah satunya oleh gerakan Slow Food.
Sudah banyak kesimpulan hasil penelitian terhadap fast food. Prevalensi anak-anak kegemukan (obesitas) semakin meningkat. Usia penduduk pengidap diabetes dan penyakit degeneratif lainnya seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan osteoporosis menjadi semakin dini, termasuk diabetes di kalangan anak-anak. Ini hanya sebagian contoh paling menonjol yang terkait kebiasaan menyantap fast food.
Makanan fast food umumnya kaya lemak jenuh dan lemak trans, tinggi kalori, rendah serat, berlimpah gula, dan bahkan royal dengan tambahan food additives sintetis untuk menjadikan warna, tekstur, dan cita rasanya menggugah selera. Semua bahan tersebut sangat kurang bersahabat dengan kesehatan. Bahkan, sebagian fast food seperti donat dikelompokkan sebagai “makanan sampah” (junk food) karena nyaris tidak menyumbangkan nutrisi kecuali hanya gula, lemak, dan setumpuk kalori.
Selengkapnya…
Like this:
Be the first to like this post.