Oleh : ‘Aidh Al-Qarni
Menyerahkan semua persoalan kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, percaya akan janji-Nya, berbaik sangka terhadap-Nya dan menunggu jalan keluar yang diberikan oleh-Nya, merupakan buah keimanan yang paling besar dan paling berharga. Salah satu sifat orang-orang mukmin yang paling agung adalah perasaan tenang ketika tertimpa musibah, dan menyerahkan segala yang menimpa dirinya kepada Allah. Karena hanya Allah-lah yang mampu melindungi, memberikan pertolongan, dan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan segala penderitaan yang dialami manusia.
Dalam sya’ir dikatakan :
“Jika mata sang pelindung memperhatikan dirimu, maka tidurlah.
(Setelah itu) Semua kejadian akan terasa aman bagimu.”
Ketika Nabi Ibrahim AS dilemparkan ke dalam api, beliau berkata: “Allah telah mencukupkan bagi kami segala nikmat-Nya, dan Dia-lah sebaik-baik pemberi nikmat.” Setelah itu Allah menjadikan api tersebut terasa dingin sehingga Nabi Ibrahim AS selamat dari panasnya api yang membakar. Ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya diancam oleh tentara orang-orang kafir dan para penyembah berhala, mereka berkata:
Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Ali ‘Imran [3]: 173-174)
Manusia tidak dapat menghadapi segala kejadian, melawan segala bentuk kezhaliman dan menyelesaikan berbagai urusan secara sendirian, karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Akan tetapi ketika dia menyerahkan segala urusan ke[ada Tuhannya, percaya kepada-Nya dan selalu bertawakkal, maka tidak ada alasan bagi manusia itu untuk mengelak dari kefakiran, lari dari berbagai musibah yang mengepung dirinya dari segala arah.
Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Al-Maa'idah [5]: 23)
Jika ada orang yang hendak menasehati dirinya sendiri, maka nasehatilah untuk selalu bertawakkal kepada Dzat yang Maha Kuat dan Maha Kaya. Hal ini supaya dapat menyelamatkan Anda dari kecaman, dan mengeluarkan Anda dari berbagai macam kesusahan. Jadikan kata-kata “Hanya kepada Allah-lah kami berserah diri dan merasa cukup atas segala karunia-Nya”, sebagai syi’ar dalam hidup Anda. Walaupun harta Anda sedikit, hutang Anda banyak dan sumber penghasilan Anda kering, tetaplah untuk mengatakan “hasbunallah wa ni’mal wakiil”.
Jika Anda diserang penyakit dan tertimpa berbagai musibah, ucapkanlah “hasbunallah wa ni’mal wakiil.”
Jika Anda takut kepada musuh, orang-orang zhalim, atau terbebani oleh berbagai urusan, maka ucapkanlah “hasbunallah wa ni’mal wakiil.”
Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (QS. Al-Furqaan [25]: 31)




berserah diri.. bertawakal.. yup-yup-yup.. That’s what I should do now!
“hasbunallah wa ni’mal wakiil”
Ya kang tadi malem lemes banget mau taklim tapi pagi ini seolah-olah sedang taklim.kadang aku merasa nga punya masalah. masuk zona aman masalah tapi sebenarnya banyak masalah kalo mau dianalisa. tapi ya aku hanya menghadapi masalah dengan mencoba untuk menerima keadaan.
tapi kadang sulit juga. Ya hanya Allah sebagai pelindung
wassalam
Satu lagi tambahan yaitu untuk selalu mengingatkan kepada orang yang kita kenal agar selalu bertawakal kepada Allah tiap kali kita menghadapi suatu cobaan atau musibah karena ‘keyakinan’ kepada Allah dapat naik turun, terkadang ketika musibah yang super hebat datang maka disanalah setan ikut berperan menghembuskan prasangka buruk kepada Allah dan disanalah juga mestinya peran kita untuk kembali mengingatkan tentang tawakkal
Assalamualaikum
aku juga sedang berserah diri A
Dalam praktek, tidak mudah berserah diri, terutama disaat-saat kritikal atau moment yang datang tiba2 (tak direncanakan) dalam hidup. Sepertinya kita semua perlu terus berlatih sehingga hal itu menjadi sebuah kebiasaan dan bisa muncul dengan mudah disaat tiba2 terjadi sesuatu yang sesungguhnya akan meringankan kita jika kita berserah diri.
Hal yang juga sering diplesetkan dalam praktek adalah menggunakan tameng berserah diri kepada Allah, lalu tidak melakukan usaha/upaya maksimal. Sifat cepat puas dan malas, yang berselimut berserah diri.
Barang kali pendekatannya juga mesti jelas urutannya ya. Melakukan yang terbaik secara maksimal, lalu berserah diri (atas apapun hasil usaha maksimal kita itu).
Bener begitu gak sih.. sahabatku..?