Oleh : Agus Nashir, S.Ag
Kematian merupakan suatu proses yang pasti akan dilalui setiap makhluk hidup. Tapi kapan kematian itu akan dilalui, hanya ALLAH SWT saja yang maha mengetahuinya. Yang jelas, kematian yang dirasakan seseorang tidak sama dengan orang lain. Waktu dan penyebabnya sangat beragam, apalagi keadaan manusia setelah kematian juga bermacam-macam. Begitulah ALLAH SWT berkehendak. Semua yang menimpa manusia di saat-saat kematian, sangat tergantung dari bagaimana manusia tatkala menjalani kehidupannya di dunia.
Bagi orang yang mengalami sakaratul maut, sebelum ruhnya sampai di tenggorokan, ALLAH SWT berkenan membukakan baginya alam malakut (alamnya para malaikat). Jika seandainya lidah orang yang sedang sakaratul maut mampu berucap, niscaya ia akan berbicara tentang keberadaan para malaikat. Tetapi kebanyakan keinginan bicara dari apa yg dilihatnya pada saat itu, hanya ia simpan dalam dirinya sendiri. Lidah terasa kaku sehingga terasa sulit untuk mengucapkannya.
Malaikat tersebut menarik ruh dari ruas dan ujung jari sehingga ruh akan telepas dari jasad laksana hilangnya kotoran mata karena sentuhan air. Orang yang durhaka, ruhnya akan terlepas laksana panggangan yang ditarik dari benang wol yang basah. Orang tersebut menyangka kalu perutnya penuh dengan duri, seakan-akan jiwanya dikeluarkan lubang jarum, sehingga terasa sesak dan seakan-akan langit bersatu dengan bumi sedangkan ia berada di antara keduanya.
Nabi Muhammad saw., pernah bersabda,
Sungguh sakaratul maut itu lebih dahsyat dari tebasan 300 pedang.
Maka ketika sedang terjadi proses sakaratul maut, keringat bercucuran membasahi tubuh, matanya mendelik, puncak hidungnya terasa memanjang, tulang-tulang iganya terangkat, jasadnya menegang dan warna kulitnya menguning.
Pernah ketika istri Rasulullah saw., Aisyah memeriksa Rasulullah di saat sakaratnya, sedangkan Nabi pada saat itu sedang berbaring di kamarnya. Berlinang airmata Aisya sambil berkata, “Diriku tebusan sesuatu yang menyedihkanmu dari ketakutan dan kesakitan. Engkau tidak pernah tersentuh jin sebelum inidan tidak ada rasa takut di wajahmu. Mengapa kini aku melihat sesuatu seperti celupan yang terendam. Jika orang mati memancarkan cahaya, maka cahaya-cahaya wajahmu kini pun telah memancar.”
Jika ruh seseorang sudah sampai ke hati, lidah orang tesebut akan terkunci, tidak dapat berbicara dan ia tidak dapat berucap ketika ruhnya telah terkumpul di dadanya. Sungguh keadaan yang tidak akan bisa dirasakan sebelum menjalaninya sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Hal ini bisa terjadi karena dua hal. Pertama, kejadian ini merupakan kejadian yang sangat besar sehingga dadanya telah sempit sebab ruh terkumpul di situ. Kedua, karena rahasia yang terkandung di dalam gerakan suara yang keluar dari lisan berasal dari hawa panas tubuh. Namun ketika hawa panas dalam tubuh menghilang, maka ia tidak dapat berbicara lagi. Keadaan tubuh pada saat sakaratul maut hanya akan mengalami dua keadaan, yaitu menegang dan keadaan dingin, karena ia telah kehilangan hawa panas tubuh. Pada akhirnya, keadaan pada sat itulah yang menyebabkan mengapa keadaan orang yg meninggal berbeda-beda.
Ketika meninggal, keadaan yang dialami manusia sangat beragam. Ada yang meninggal dalam keadaan tersenyum, terasa cepat tanpa menimbulkan rasa sakit. Terkadang ada pula yang meninggal dalam keadaan yang menyedihkan, sehingga membuat orang yg melihatnya merasa iba dan ketakutan. Sulit atau mudahnya ruh keluar dari jasad, tergantung dari amal yang dilakukan manusia ketika hidup di dunia.
Apabila orang yang mati sedang air ludahnya terus mengalir, mengerut dua bibirnya, menghitam wajahnya dan menguning dua matanya, maka itulah tanda-tanda bahwa ia orang yang sengsara, karena pada saat itu terlihat baginya hakikat kesengsaraan di akhirat nanti. Namun bila si mayit mengering mulutnya dan seakan-akan dia sedang tertawa, wajahnya berseri, matanya terkatup, maka tanda-tanda bahwa ia orang yang akan mendapatkan kesenangan di akhirat, karena pada saat itu ia telah melihat hakikat kemuliaan dirinya.
Para ahli ilmu kalam berpendapat bahwa hidup itu bukanlah ruh. Artinya, hidup itu gabungan antara jasad dan ruh. Jika ruh yang sedang dicabut sampai di tenggorokan, maka pada saat itulah akan muncul godaan dari iblis. Pada saat itu iblis mengutus pembantunya menggoda manusia yang sedang sakaratul maut. Mereka datang dengan rupa orang-orang yang dicintai yang biasa menasehatinya di dunia, seperti rupa ayahnya, ibunya, saudaranya maupun teman karibnya.
Saat itu iblis menyebut aqidah semua agama. Ketika itu, ALLAH SWT hanya akan menyimpangkan hati seseorang yang diinginkannya. Tetapi jika ALLAH SWT menginginkan si hamba mendapat hidayah dan ketetapan hati, maka pada saat manusia menjalani sakaratul maut, ALLAH SWT akan mengutus padanya malaikat Jibril untuk mengusir iblis darinya dan menjaganya dari aqidah yang rusak serta mendampinginya untuk kemudian bisa wafat dalam keadaan fitrah Islam.
Ketika ruh sudah di ambang pintu keluar dari jasad, semua panca indera manusia tidak akan dapat berfungsi lagi, kecuali indera pendengaran. Ketika ruh terlepas dari hati, ia akan merusak pandangan mata. Sedangkan pendengarannya belum hilang hingga ruh terlepas dari jasad. Karena itu Rasulullah saw. bersabda,
Talkinkanlah orang yang akan mati dari kalian dengan dua kalimat syahadat, yaitu tiada Tuhan selain ALLAH dan Muhammad adalah utusan ALLAH.
Anjuran untuk men-talkin-kan pada saat sakaratul maut (membantu mengarahkan menyebut dua kalimat syahadat) sangat membantu si mayit dalam sakaratnya. Meskipun semua panca inderanya sudah tidak dapat berfungsi lagi, tetapi pendengarannya masih berfungsi, sehingga ia akan dapat mendengar suara orang-orang yang berada di sekelilingnya. Dengan bantuan talkin tersebut, bisa saja si mayit akan selalu teringat kepada ALLAH SWT, sehingga ia menolak semua ajakan iblis yang mencoba untuk menjerumuskannya pada saat sakaratul maut. Tetapi hanya ALLAH SWT saja yang Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak tentang keadaan manusia ketika sekaratnya.
Begitulah hakikat dari kematian yang akan menimpa setiap makhluk ciptaan ALLAH SWT. Begitu dahsyatnya kematian itu terjadi, sehingga mau tidak mau kita harus selalu mendekatkan diri kepada ALLAH SWT serta memperbanyak amal kebaikan.
Kematian adalah peringatan ALLAH SWT kepada makhluk-NYA agar selalu dapat mengambil pelajaran darinya. Hanya kepada ALLAH lah kita menyembah dan hanya kepada ALLAH pula lah kita memohon pertolongan. Semoga ALLAH SWT berkenan memudahkan kematian kita dan mengaruniakan kepada kita khusnul khotimah, amin.
Sumber : Mengungkap Rahasia Hari Kemudian (Imam al-Ghazali)




wah, takut juga kalau pas mau sakaratul maut, kita malah jadi menyimpang.
semoga kita mati dalam keadaan khusnul khotimah.
amin…
smoga saya mendapat hakikat kemuliaan ketika ajal menjemput…
dan bisa mati dalam keadaan khusnul khotimah.. aamiin
Semoga saya dapat menjadikan niat saya untuk berbuat baik dalam tindakan ketika nafas masih terhela, agar dapat meringankan beban ketika harus menghadapi kematian nanti. Dan jika kematian itu hadir menjemput dalam waktu sakratul maut, semoga saya sudah dalam keadaan khusnul khotimah….
terima kasih sudah berbagi…
aku tertegun membacanya, semoga ketika ,hendak menghadap-Nya, kita diberikan husnul khotimah, mampu melafadzkan kalimat thoyyibah.. semoga ^_^
*penunggu kebun mawar*
makasih yah sudah kirim message.. cuman pemilik kebun lagi pulkam mas… saya sih hanya tukang kebun
Jadi ingat kisah wafatnya Rasulullah SAW di blognya Siti Fatimah Ahmad, ingat juga pada almarhum Ibuku. Aku merinding tapi pasrah saja. Biarlah Allah berkehendak. Kita tak kuasa kecuali berdoa.
Allahumma hawwin ‘alaina fii sakarotul maut…
Allahumma baarikli fil maut wa fiima ba’dal maut…
aamiin Ya robb
semoga kita semua diberikan khusnul khatimah
Dear Laki-laki Biasa yang luar biasa.
Kelahiran kita adalah awal dari proses kematian. Bahwa yang lahir pasti menuju mati.
Ketakutan, kekhawtiran, kecemasan, dan lain-lain yang berlebihan adalah “racun” jiwa kita. Kalau jiwa kita sudah keracunan maka jiwa jadi tidak sehat.
Kematian adalah hal yang biasa, tidak usah dilebih-lebihkan.
Soal seperti apa nanti pada saat kita mati tidak perlu dipikirkian, apalagi dengan sudut pandang “racun” (takut,ngeri, cemas, khawatir dll).
Tuhan tidak pernah menciptakan neraka. Rasional manusia lah yang menciptakan neraka bagi manusia. Tuhan hanya memiliki Surga, Kalau kita di panggil olehNya, artinya kita dipersilakan masuk kedalam “rumah”Nya yaitu Surga.
Hanya manusia yang banyak berlaku “jelek”lah yang berpikir tentang neraka.
Semua tergantung dari dalam jiwa kita masing-masing, bagaimana merefkleksikan apa yang kita dengar, lihat, raba… (termasuk membaca, menonton, mendengar ceramah, dll) Kalau jiwa penuh dengan racun maka yang ada di luar kita akan jadi racun.
Jernihkan jiwa kita
Bahwa Allah Maha Baik, tidak pernah menguhukum manusia, bahwa pikiran manusia itu sendiri yang menghukum manusia.
Lupakan apa yang namanya “pahala” sebagai hasil kalkulasi. Tuhan sangat sempurna dalam memberikan “pahala” tanpa melalui proses kalkulasi, seperti manusia.
Berpikir positif akan membentuk rasa positif, rasa positif itu akan memberikan nilai positif yang akan membuang racun dalam jiwa kita.
Be happy,
Pada saat manusia berbahagia dan memancarkan frekwensi kebahagiaan bagi orang lain, manusia itu sudah mendapatkan surganya meski masih hidup.
Menyusahkan, dan membuat orang lain menderita, tanpa matipun orang itu sudah mendapatkan nerakanya.
Be Positif.
Dear Laki-laki Biasa
“Begitu banyak dalil2 tentang Neraka di Al-Qur’an. Apakah Mas Suryo bisa memberikan dalil bahwa ALLAH tidak pernah menciptakan neraka?”
Memahaminya bukan tekstual tapi apa yang tersirat, bahwa “alam kematian” yang tidak terjangkau rasionalitas harus divisualkan secara jelas, namun visualisasi tidak ada keseragaman. seperti halnya makanan yang pedas, manis, asin. Ukuran rasa manusia satu dengan yang lain tidaklah sama.
contoh:
“ALLAH tidak menzhalimi umat-NYA, tetapi umat-NYA lah yg menzhalimi diri sendiri (lihat surat Ar-Ruum: 30). Menurut saya perbuatan dari setiap manusia itulah yg menghukum dirinya sendiri. Karena sekecil apapun kebaikan dan kejahatan yg dilakukan umat manusia akan ada balasannya (lihat surat Al-Zalzalah: 7-8). Nikmat (surga) dan hukuman (neraka) adalah konsekuensi atau imbalan tertinggi dari setiap perbuatan manusia di muka bumi.”
Visualisasi / gambaran bahwa manusia tidak ada pilihan lain kecuali berbuat baik.
Saya tidak akan melihat hukumannya, tapi yang saya lihat adalah akibat dari pebuatan yang selaras dengan kehendak Tuhan.
Kalau saya memikirkan hukuman dari Tuhan dan neraka, saya akan mengingkari Tuhan yang maha baik. yang maha bijaksana, The Oneness of God.
Yang saya pikirkan bagaimana saya terlibat dalam kebahagiaan bersama dengan orang lain yang ikut bahagia karena aku bahagia.
Karena kebahagiaan bukan soal kompetisi ada yang menang dan yang kalah.
Maaf Mas, aku bukan Muslim, aku katolik abangan (ktp doang).
Konteks surga neraka / nirvana karma/ reinkarnanasi dan apapun analisa tentang alam kematian aku memandangnya bukan secara “leterlek / tekstual” tapi sesuatu pemahaman yang sedikit nyleneh. Aku bukan pula pemaham “New Age”.
Have positive days…